Tampilkan postingan dengan label ASIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2011

A Barefoot Dream (2010)

Kegagalan tampaknya tidak pernah jauh-jauh dari kehidupan Kim Won-kang (Hee-soon Park). Bisnis kayu yang tidak berjalan baik sampai kehidupan perkawinan yang berantakan membawa pria Korea Selatan yang juga seorang pemain sepak bola ini mencoba mengadu peruntungannya ke Dili, Timor Leste, ibu kota negara yang pada saat itu baru saja melepaskan diri dari Indonesia.

Di sana, melihat antusiasme yang begitu besar dalam diri anak-anak Timor Leste dalam bermain sepak bola, apalagi hampir semua anak-anak tersebut bermain tanpa menggunakan sepatu membuat Kim Won-kang mencoba memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membuka toko peralatan olahraga, tentu dengan harapan besar memperoleh keuntungan yang bayak. Sayang, Kim Won-kang terlalu naif, Ia rupanya tidak mengetahui kondisi ekonomi masyarkat Timor Leste yang serba kekurangan paska kemerdekaan dimana untuk makan saja susah, apalagi membeli sepatu seharga $60. Namun dibalik kekecewaannya itu Kim melihat semangat luar biasa dalam diri anak-anak tidak beruntung itu dalam sepak bola yang kemudiannya memutuskan dengan bekalnya sebagai mantan pemain sepak bola untuk melatih mereka.
Jujur saja sebenarnya A Barefoot Dream sama sekali tidak meyuguhkan sesuatu yang spesial, semua tersaji layaknya tipikal sport movies kebanyakan, klise dan mudah ditebak, bahkan di 20 menit pertama saja kita sudah mengetahui bagaimana film ini akan berakhir nantinya. Namun menjadi klise bukanlah hal yang tabu, apalagi jika sang empunya film, dalam kasus ini, Kim Tae-gyun termasuk berhasil memoles kisah ‘cinderlla story’ yang juga diangkat dari kisah nyata ini dengan baik dan menjadikannya sebuah tontonan menghibur dan juga inspirasional, apalagi mengingat olahraga yang diangkat adalah sepak bola, olahraga palingg digemari di jagat raya ini.
A Barefoot Dream dapat dengan mudah menjadi film yang personal bagi kita, penonton Indonesia. Apalagi jika bukan karena kisahnya bersetting di Timor Leste yang notabene adalah eks NKRI. Ya, Meskipun negara yang sebelum kemerdekaannya pada 20 Mei 2002 lalu masih bernama Timor Timur ini sudah tidak lagi berstatus sebagai bagian negara kita, namun tetap saja tidak mudah bagi masyarakatnya untuk melepaskan budaya Indonesia yang sudah melekat erat dalam darah mereka. Dan rupanya sebagai sutradara dan penulis naskah, Kim Tae-gyun cukup jeli melihat fenomena tersebut. Alih-alih mengambil jalan pintas dengan menggunkan bahasa Inggris atau Korea yang notabene lebih mudah, Kim malah memilih untuk rela besusah payah menyajikan dialog-dialog serealistis mungkin dengan memasukan bahasa Indonesia yang sudah terdengar akrab ditelinga kita menjadi salah satu bahasa utama di sin berdampingan dengan bahasa Korea, Inggris, maupun Portugis. Sebenarnya aneh juga melihat aktor Hee-soon Park berbicara dalam bahasa Indonesia yang masih belepotan, namun jelas hal tersebut dipastikan akan membuat kita sebagai penonton Indonesia mau tidak mau tersenyum atau bahkan tertawa mendengarnya.
Meskipun beratribut kisah nyata, namun sudah tentu sebagai sebuah film komersil, A Barefoot Dream, seperti kebanyakan film dengan ‘embel-embel’ based on true story-nya juga mengalami modifikasi sana-sini yang sudah tentu menyimpang dengan kisah orisinilnya, plus momen-momen yang sudah didramatisasi sedemikian rupa, ya, sekali lagi namanya juga film komersil, semua hal tersebut tampaknya masih diperlukan untuk membuat kisah from zero to hero’ ini menjadi terlihat menarik, dan yang terutama bisa menyentuh emosi para penontonnya, meskipun bagi saya film yang mewakili Korea Selatan dalam ajang Oscar 2010 untuk masuk nominasi film berbahasa asing terbaik ini terlihat ‘lebay’ dibeberapa bagian. Oh, ya! jangan lewatkan juga cameo Xanana Gusmão, presiden Timor Leste pertama disini.
Overall, A Barefoot Dream tidak lebih hanya sebuah film olahraga biasa. ya, memang sebuah film inspirasional, ya, memang diangkat dari kisah nyata yang mengagumkan, tapi semua itu sudah bukan barang baru lagi. Bagi saya bagian paling menarik disini adalah digunakannya Timor Leste yang notabene masih erat kaitannya dengan Indonesia bersama dengan segala budaya dan gejolak politiknya sebagai bahan ‘jualan’ utama film produksi Korea Selatan dan Jepang ini. Good, but not that Good.
Untuk download klik linknya di bawah ini:
http://www.mediafire.com/?x3f2lblb58rc03h
http://www.mediafire.com/?6jay43yknz7pjmx
http://www.mediafire.com/?3biq5edqzzwz929 
BACA SELENGKAPNYA TENTANG........- A Barefoot Dream (2010)

Rabu, 09 Februari 2011

Shaolin (2011)


 

 Shaolin (2011)

Shaolin abbot: ” Mediation through martial arts.  In his heart,
he is beyond the need for revenge or hatred now “

Kata “Shaolin” mungkin terdengar  familiar di telinga para moviegoers dunia, khususnya bagi mereka yang pernah menjadi saksi kedigdayaan film-film beladiri Mandarin yang pernah mencapai puncak kejayaannya pada era ’80-’90an lalu. Film baku hantam ala negeri tirai bambu ini tidak jarang membawa-bawa nama besar Shaolin berserta segala cerita dan ajaran-ajaran menarik dibaliknya baik hanya sebagai pelengkap hingga menjadi kisah utama itu sendiri, salah satunya yang paling ngetop pada saat itu adalah The Shaolin Temple. Film keluaran 1982 itu memang menjadi salah satu film kung-fu legendaris hingga kini, serta berjasa besar ‘melahirkan’ sosok aktor beladiri ternama,  Li Lian Jie atau biasa kita kenal dengan nama Jet Li.
Nah, di 2011 ini sutradara sekaligus produser, Benny Chan mencoba menghadirkan kembali adaptasi baru dari kisah klasik berusia 29 tahun tersebut ke layar lebar dalam Shaolin. Benny Chan sendiri bukan anak kemarin sore di dunia perfilman Hong Kong, khususnya film-film laga bela diri. Terhitung semenjak debut penyutradaraan dalam A Moment of Romance tahun 1990 lalu, hingga City Under Siege yang hadir 2010 lalu, sutradara berusia 42 tahun ini sudah menelurkan 21 film, dan kebanyakan di bintangi oleh aktor favoritnya, Jackie Chan.
Di saat awal-awal terbentuknya Cina sebagai negara republik, para penguasa saling berperang untuk memperluas daerah kekuasaannya. Salah satunya adalah seorang panglima perang, Hao Jie (Andy Lau) bersama saudara, sekaligus orang kepercayaannya, Huo Lung (Nicholas Tse) yang baru saja menaklukan kota Dengfeng. Hao Jie sendiri adalah tipikal penguasa tiran. Sombong, terlalu percaya diri, kejam dan tidak pernah peduli pada nasib orang lain adalah sifatnya. Segala cara dilakukannya untuk dapat memperkuat posisinya sebagai penguasa, termasuk cara yang paling kotor sekalipun.
Ya, sepertinya tidak ada yang mampu mengusik Hao Jie di tampuk kekuasaanya sampai suatu saat sebuah pengkhianatan menghancurkan dirinya dan keluarganya. Hao Jie masih cukup beruntung lolos dari kematian walaupun harus dibayar mahal dengan kematian orang yang paling dicintainya. Dalam keadaan tubuh lemah penuh luka dan mental yang terpuruk, Hao Jie diselamatkan oleh para biksu yang mendiami kuil Shaolin di daerah itu. Disini secara perlahan Hao Jie mulai berdamai dengan dirinya dan menemukan ketenangan dalam ajaran Budha yang penuh kasih dan kesederhanaan. Namun sayang masa lalu tampaknya tidak ingin melepaskannya begitu saja, sekali lagi Hao Jie harus bertemu sang pengkhianat yang kini menjadi penguasa yang jauh lebih kejam dari dirinya dulu dan berusaha mengehentikan sepak terjangnya yang diluar batas kemanusiaan itu.

Serupa tapi tak sama, Meskipun bertema mirip, menceritakan sepak terjang para biksu Shaolin dalam melawan kekuasan Penguasa Tiran, Shaolin versi Benny Chan ini bukanlah remake dari The Shaolin Temple, bisa dibilang ini adalah versi lain dari film Kung Fu klasik itu. Ya, harus diakui walaupun tidak istimewa, Alan Yuen cukup berhasil mengkonversi tema old school tersebut menjadi cerita yang  lebih fresh dan mudah ‘dikunyah’ oleh semua kalangan, apalagi tidak seperti versi lamanya, Shaolin lebih menitikberatkan pada transformasi karakter utamanya dari sosok antagonis menjadi pahlawan dengan tidak lupa memasukan banyak petuah dan ajaran-ajaran Budha yang penuh kebersahajaan, kasih sayang, dan pengorbanan  didalamnya.
Tenang saja, anda masih tetap menyaksikan rangkaian aksi bela diri didalamnya, mungkin tidak sedahsyat dan sebanyakan dwilogi Ip Man, namun setidaknya melalui tangan dingin Corey Yuen sang koreografer kita masih dapat menyaksikan momen-momen ‘jual beli’ pukulan dan tendangan yang diwarnai dengan jurus-jurus maut nan indah khas kuil Shaolin yang legendaris itu, plus tatanan sinematografi yang apik Anthony Pun membuat Shaolin sukses menghadirkan paket lengkap sebuah film bela diri yang menghibur.
Tidak terlalu mengejutkan jika Shaolin mampu menjadi blockbuster di negaranya, selain kisahnya sendiri cukup menarik, simple dan penuh pesan moral, lihat juga deretan nama pemainnya yang jelas akan menjual tiket dengan jumlah sangat banyak. Jika nama seorang Andy lau sendiri saja sudah lebih dari cukup untuk membuat film ini ditonton jutaan pasang mata, bagaimana jika masih ditambah nama Nicholas Tse, dan,  the one and only, Jackie Chan?! Jelas sebuah ensemble cast yang sulit untuk ditolak bukan? meskipun faktanya Jackie sendiri hanya didapuk sebagai karkater penggembira saja yang kehadirannya jika hitung-hitung tidak lebih dari 15 menit, atau Andy Lau yang lagi-lagi dengan sangat menyesal harus saya katakan aktor yang belum kehilangan pesonanya ini tampil datar dan kurang mampu menggali karkaternya yang seharusnya menjanjikan. Transformasi dari seorang Panglima peran tiran menjadi seorang Biksu penuh welas asih tampak terlalu teburu-buru dan kurang dijiwai dengan baik. Bisa jadi hanya seorang Nicholas Tse yang satu-satunya mampu tampil konsisten dan menyakinkan sepanjang 131 menit.
Ah, namun siapa sih yang terlalu memperdulikan jika Shaolin memiliki cerita yang tidak istimewa, Jackie Chan yang tampil singkat (namun sangat menghibur) atau Andy lau dengan akting yang pas-pasan, toh sebagai sebuah film bertemakan aksi laga klasik, Shaolin dibawah asuhan  Benny Chan ini sudah sukses menghadirkan sebuah paket hiburan lengkap dengan tidak lupa menyelipkan petuah-petuah dan ajaran-ajaran moral didalamnya. Jadi selamat menikmati dan tidak lupa saya ucapakan Gong Xi Fat Chai, Selamat Imlek bagi anda yang merayakannya! Semoga di tahun kelinci emas ini anda semua yang sudah setia membaca blog sederhana ini akan diberikan kemudahan dalam segala hal






 DOWNLOAD WITH MEDIAFIRE


BACA SELENGKAPNYA TENTANG........- Shaolin (2011)